WILAYAH Provinsi Pattani, Thailand Selatan
berangsur-angsur bangkit setelah beberapa tahun terjadi pergolakan
senjata. Wartawan Suara Merdeka Agus Fathuddin Yusuf yang belum lama ini
melakukan perjalanan darat dari Kualalumpur, Yala dan Pattani
menuliskan laporan dalam dua seri mulai hari ini.
Nama Kolonel Pek di wilayah Thailand Selatan rupanya cukup sakti.
Buktinya, hanya menyebut nama Pek ketika diperiksa tentara di perbatasan
Rantau Panjang Malaysia – Su-Ngai Go-Lok Thailand rombongan kami
cepat-cepat dilepaskan melanjutkan perjalanan.
Sejak di Kualalumpur saya sudah diberitahu Habib Yusuf dari Malang
bahwa rombongan kami mendapat jaminan keamanan dari “Jenderal Pek”
penguasa keamanan wilayah Thailand Selatan. Benar juga setelah beberapa
meter lolos dari pemeriksaan imigrasi Rantau Panjang Malaysia, bus besar
dan tiga mobil jenis Toyota Alphard yang membawa 60 kiai dari Indonesia
dicegat satu peleton tentara berseragam doreng, bertopi baja dan
senjata laras panjang.
Mereka tak paham bahasa Melayu maupun bahasa Inggris. Untung setelah
beberapa saat menunggu sambil menghubungi para kiai di Pattani dan Yala
bahwa kita menghadapi pemeriksaan di Su-Ngai Go-Lok akhirnya, kami lolos
setelah menyampaikan pesan kepada tentara bahwa kami adalah “Tamu
Jenderal Pek”.
“Alhamdulillah akhirnya, lolos juga,” tutur Kiai Roziqin dari Jepara.
Andai tidak ada jaminan dari Pek bisa dipastikan rombongan tidak akan
sampai ke Pattani. Bahkan bisa jadi satu bus ditahan oleh tentara
Thailand di perbatasan Su-Ngai
Go-Lok.
Selepas dari pemeriksaan yang memakan waktu hampir satu setengah jam,
para kiai yang rata-rata memakai kain sarung minta sopir bus mencari
toilet untuk buang air kecil. Untung di pinggir jalan besar masih di
wilayah Su-Ngai Go-Lok ada
masjid yang cukup besar sehingga kami bisa istirahat sejenak memanfaatkan toilet sambil melepaskan ketegangan.
Rombongan langsung menuju pondok pesantren An-Nur Markaz Yala, salah
satu pesantren tertua dan terbesar di provinsi Yala. Perjalanan dari
Kelantan Malaysia hingga Markaz Yala ditempuh sekitar 3 jam. Meski
sepanjang jalan aspal yang kami lalui sangat mulus, tetapi bus tidak
mampu melebihi kecepatan 60 km per jam. Sebab hampir setiap satu
kilometer terdapat barikade kawat berduri yang dijaga oleh tentara
bersenjata.
Hujan deras yang mengguyur sepanjang perjalanan semakin menambah
ketegangan para kiai. Rasa lega dan ucapan syukur Alhamdulillah terucap
serentak oleh para kiai ketika sekitar pukul 22.00 waktu Thailand, bus
memasuki pintu gerbang Markaz Yala.
Ratusan santri berseragam jubah dan sorban putih menyambut di halaman
pondok. Mereka berebut mencium tangan kiai dan mengajak masuk ke ruang
tamu yang telah disediakan.
Sebagian santri segera menyajikan hidangan, sebagian yang lain sibuk
menurunkan kopor dan barang bawaan kiai turun dari bus. Satu cangkir teh
Thailand dan Kopi “Tongkat Ali” cukup memberi kehangatan malam itu.
Di daerah itu selain Kopi “Tongkat Ali” juga terkenal Kopi “Janda”.
Mungkin itu hanya nama, tetapi rasanya hampir sama dengan kopi di
Indonesia.
Penasaran kami tentang sosok Kolonel Pek terjawab ketika siang hari
usai shalat zuhur jamak takdim dengan Asar di Masjid Raya Pattani para
kiai dijamu makan siang oleh Pek di Utharos Restaurant. Dia tidak
sendirian tetapi didampingi atasannya, Kolonel Prasert Saengsungnoen.
Pek dan Prasert tidak memakai seragam militer seperti tentara yang kami
temui di sepanjang jalan.
Keduanya, memakai baju santai dipadu dengan jas blazer. Sebagai
pertanda Kolonel Pek seorang muslim seperti kami, dia mamakai kopiah
putih. Satu persatu kiai yang datang disalaminya. Dia selalu menebarkan
senyum ramah.
KH Munif Marzuki, pengasuh PP Langitan Tuban, mengambil kursi satu
meja bundar dengan KH Hanif Muslih PP Futuhiyyah Sauburan Mranggen
Demak. Dalam meja bundar berukuran besar itu juga duduk KH Zaim Ahmad
Maksum Lasem dan KH Ahmad Badawi Basyir Kudus.
Kolonel Prasert mengawali jamuan makan siang itu dengan menyampaikan
sambutan ucapan selamat datang dalam bahasa Thailand. Babo Haji Mohammad
Adam, pimpinan muslim Pattani langsung menerjemahkannya dalam Bahasa
Melayu. Dari wawancara dengan Kolonel Pek, akhirnya terjawab mengapa
sampai dia akhirnya, menjadi mualaf masuk Islam.
Dua tahun lalu ketika dia bersama anak buahnya ditugaskan menangkap
Syeh Mahmud dan mematai-matai gerakan umat Islam di wilayah Pattani,
Yala dan Narathiwat. Suatu hari ketika Pek yang nama lengkapnya Kolonel
Puan Pan Pek akan menangkap
Syeh Mahmud di rumahnya, dia disambut oleh shahibul bait atau tuan rumah sebagai tamu yang sangat dimuliakan.
Pintu ruang tamu sudah dibuka lebar-lebar. Dihamparkan permadani yang
indah, diatasnya tersaji aneka hidangan makanan dan buah-buahan segar.
Pek jadi terheran-heran. “Lho saya ini mau menangkap Tuan Guru Mahmud
kok malah disambut seperti tamu yang sangat istimewa,” tutur Pek.
Menurut Habib Yusuf, Syeh Mahmud termasuk aulia berilmu tinggi
sehingga masih tampak karomah kekuasaan Allah SWT. Perlahan-lahan Pek
mulai sadar bahwa yang dihadapi adalah bukan manusia biasa. Dia kemudian
memerintahkan anak buahnya yang sejak awal mengepung rumah Syeh Mahmud
dengan moncong senjata siap memuntahkan peluru, untuk bubar.
Setelah berbincang-bincang banyak hal dengan Syeh Mahmud, Pek
berpamitan pulang. Dia tidak jadi menangkap buruannya itu. Dalam
perjalanan pulang, dia mendapat kabar bahwa anaknya dalam kondisi kritis
di rumah sakit Thailand. Dia buru-buru menjumpai anak kesayangannya
itu.
Sebagai ayah dari seorang anak, Pek sangat terkejut mendapati
anaknya, dalam keadaan sekarat. Dia langsung teringat Syeh Mahmud dan
menelponya. “Kamu katanya, orang pintar, kamu katanya orang sakti, kamu
katanya orang yang dekat dengan Tuhan. Kalau itu benar, coba kamu minta
kepada Tuhanmu agar anak saya disembuhkan segera,” kata Pek.
Syeh Mahmud bersama sejumlah santri segera menuruti permintaan Pek
menyusul ke rumah sakit dan berdoa untuk kesembuhan anak kesayangan
Kolonel Pek. Subhanalloh, doa waliyullah itu dikabulkan Allah. Anak
kesayangan Pek sembuh dalam seketika. Sebagai ungkapan syukur, dia
akhirnya bersyahadat dan menyatakan masuk Islam.
Bahkan kini Kolonel Pek berada di barisan paling depan dalam gerakan
dakwah di wilayah Pattani, Yala dan Narathiwat. Sejak Pek masuk Islam,
banyak tentara yang akhirnya mengikuti jejak komandannya. “Alhamdulillah
kami bersyukur Alloh telah memberikan hidayah,” tutur Syeh Mahmud saat
menerima kami di Pondok Pesantren yang terletak di tengah hutan karet
kawasan Yala, Thailand.
Kepercayaan Kolonel Pek dan Angkatan Darat kepada para kiai dan ulama
di wilayah Pattani, Yala dan Narathiwat semakin besar. Buktinya, para
korban narkoba, pelaku kejahatan seperti pencuri, perampok, penjudi dan
lain-lain diserahkan kepada Syeh Mahmud untuk direhabilitasi dan
disembuhkan menjadi manusia normal. “Kalau kami penjara bisa tidak muat
dan berapa besar biaya yang harus kami keluarkan untuk menghidupi mereka
di penjara,” tutur Pek.