Senin, 10 November 2014

Hidayah Allah

WILAYAH Provinsi Pattani, Thailand Selatan berangsur-angsur bangkit setelah beberapa tahun terjadi pergolakan senjata. Wartawan Suara Merdeka Agus Fathuddin Yusuf yang belum lama ini melakukan perjalanan darat dari Kualalumpur, Yala dan Pattani menuliskan laporan dalam dua seri mulai hari ini.
Nama Kolonel Pek di wilayah Thailand Selatan rupanya cukup sakti. Buktinya, hanya menyebut nama Pek ketika diperiksa tentara di perbatasan Rantau Panjang Malaysia – Su-Ngai Go-Lok Thailand rombongan kami cepat-cepat dilepaskan melanjutkan perjalanan.
Sejak di Kualalumpur saya sudah diberitahu Habib Yusuf dari Malang bahwa rombongan kami mendapat jaminan keamanan dari “Jenderal Pek” penguasa keamanan wilayah Thailand Selatan. Benar juga setelah beberapa meter lolos dari pemeriksaan imigrasi Rantau Panjang Malaysia, bus besar dan tiga mobil jenis Toyota Alphard yang membawa 60 kiai dari Indonesia dicegat satu peleton tentara berseragam doreng, bertopi baja dan senjata laras panjang.
Mereka tak paham bahasa Melayu maupun bahasa Inggris. Untung setelah beberapa saat menunggu sambil menghubungi para kiai di Pattani dan Yala bahwa kita menghadapi pemeriksaan di Su-Ngai Go-Lok akhirnya, kami lolos setelah menyampaikan pesan kepada tentara bahwa kami adalah “Tamu Jenderal Pek”.
“Alhamdulillah akhirnya, lolos juga,” tutur Kiai Roziqin dari Jepara. Andai tidak ada jaminan dari Pek bisa dipastikan rombongan tidak akan sampai ke Pattani. Bahkan bisa jadi satu bus ditahan oleh tentara Thailand di perbatasan Su-Ngai
Go-Lok.
Selepas dari pemeriksaan yang memakan waktu hampir satu setengah jam, para kiai yang rata-rata memakai kain sarung minta sopir bus mencari toilet untuk buang air kecil. Untung di pinggir jalan besar masih di wilayah Su-Ngai Go-Lok ada
masjid yang cukup besar sehingga kami bisa istirahat sejenak memanfaatkan toilet sambil melepaskan ketegangan.
Rombongan langsung menuju pondok pesantren An-Nur Markaz Yala, salah satu pesantren tertua dan terbesar di provinsi Yala. Perjalanan dari Kelantan Malaysia hingga Markaz Yala ditempuh sekitar 3 jam. Meski sepanjang jalan aspal yang kami lalui sangat mulus, tetapi bus tidak mampu melebihi kecepatan 60 km per jam. Sebab hampir setiap satu kilometer terdapat barikade kawat berduri yang dijaga oleh tentara bersenjata.
Hujan deras yang mengguyur sepanjang perjalanan semakin menambah ketegangan para kiai. Rasa lega dan ucapan syukur Alhamdulillah terucap serentak oleh para kiai ketika sekitar pukul 22.00 waktu Thailand, bus memasuki pintu gerbang Markaz Yala.
Ratusan santri berseragam jubah dan sorban putih menyambut di halaman pondok. Mereka berebut mencium tangan kiai dan mengajak masuk ke ruang tamu yang telah disediakan.
Sebagian santri segera menyajikan hidangan, sebagian yang lain sibuk menurunkan kopor dan barang bawaan kiai turun dari bus. Satu cangkir teh Thailand dan Kopi “Tongkat Ali” cukup memberi kehangatan malam itu.
Di daerah itu selain Kopi “Tongkat Ali” juga terkenal Kopi “Janda”. Mungkin itu hanya nama, tetapi rasanya hampir sama dengan kopi di Indonesia.
Penasaran kami tentang sosok Kolonel Pek terjawab ketika siang hari usai shalat zuhur jamak takdim dengan Asar di Masjid Raya Pattani para kiai dijamu makan siang oleh Pek di Utharos Restaurant. Dia tidak sendirian tetapi didampingi atasannya, Kolonel Prasert Saengsungnoen. Pek dan Prasert tidak memakai seragam militer seperti tentara yang kami temui di sepanjang jalan.
Keduanya, memakai baju santai dipadu dengan jas blazer. Sebagai pertanda Kolonel Pek seorang muslim seperti kami, dia mamakai kopiah putih. Satu persatu kiai yang datang disalaminya. Dia selalu menebarkan senyum ramah.
KH Munif Marzuki, pengasuh PP Langitan Tuban, mengambil kursi satu meja bundar dengan KH Hanif Muslih PP Futuhiyyah Sauburan Mranggen Demak. Dalam meja bundar berukuran besar itu juga duduk KH Zaim Ahmad Maksum Lasem dan KH Ahmad Badawi Basyir Kudus.
Kolonel Prasert mengawali jamuan makan siang itu dengan menyampaikan sambutan ucapan selamat datang dalam bahasa Thailand. Babo Haji Mohammad Adam, pimpinan muslim Pattani langsung menerjemahkannya dalam Bahasa Melayu. Dari wawancara dengan Kolonel Pek, akhirnya terjawab mengapa sampai dia akhirnya, menjadi mualaf masuk Islam.
Dua tahun lalu ketika dia bersama anak buahnya ditugaskan menangkap Syeh Mahmud dan mematai-matai gerakan umat Islam di wilayah Pattani, Yala dan Narathiwat. Suatu hari ketika Pek yang nama lengkapnya Kolonel Puan Pan Pek akan menangkap
Syeh Mahmud di rumahnya, dia disambut oleh shahibul bait atau tuan rumah sebagai tamu yang sangat dimuliakan.
Pintu ruang tamu sudah dibuka lebar-lebar. Dihamparkan permadani yang indah, diatasnya tersaji aneka hidangan makanan dan buah-buahan segar. Pek jadi terheran-heran. “Lho saya ini mau menangkap Tuan Guru Mahmud kok malah disambut seperti tamu yang sangat istimewa,” tutur Pek.
Menurut Habib Yusuf, Syeh Mahmud termasuk aulia berilmu tinggi sehingga masih tampak karomah kekuasaan Allah SWT. Perlahan-lahan Pek mulai sadar bahwa yang dihadapi adalah bukan manusia biasa. Dia kemudian memerintahkan anak buahnya yang sejak awal mengepung rumah Syeh Mahmud dengan moncong senjata siap memuntahkan peluru, untuk bubar.
Setelah berbincang-bincang banyak hal dengan Syeh Mahmud, Pek berpamitan pulang. Dia tidak jadi menangkap buruannya itu. Dalam perjalanan pulang, dia mendapat kabar bahwa anaknya dalam kondisi kritis di rumah sakit Thailand. Dia buru-buru menjumpai anak kesayangannya itu.
Sebagai ayah dari seorang anak, Pek sangat terkejut mendapati anaknya, dalam keadaan sekarat. Dia langsung teringat Syeh Mahmud dan menelponya. “Kamu katanya, orang pintar, kamu katanya orang sakti, kamu katanya orang yang dekat dengan Tuhan. Kalau itu benar, coba kamu minta kepada Tuhanmu agar anak saya disembuhkan segera,” kata Pek.
Syeh Mahmud bersama sejumlah santri segera menuruti permintaan Pek menyusul ke rumah sakit dan berdoa untuk kesembuhan anak kesayangan Kolonel Pek. Subhanalloh, doa waliyullah itu dikabulkan Allah. Anak kesayangan Pek sembuh dalam seketika. Sebagai ungkapan syukur, dia akhirnya bersyahadat dan menyatakan masuk Islam.
Bahkan kini Kolonel Pek berada di barisan paling depan dalam gerakan dakwah di wilayah Pattani, Yala dan Narathiwat. Sejak Pek masuk Islam, banyak tentara yang akhirnya mengikuti jejak komandannya. “Alhamdulillah kami bersyukur Alloh telah memberikan hidayah,” tutur Syeh Mahmud saat menerima kami di Pondok Pesantren yang terletak di tengah hutan karet kawasan Yala, Thailand.
Kepercayaan Kolonel Pek dan Angkatan Darat kepada para kiai dan ulama di wilayah Pattani, Yala dan Narathiwat semakin besar. Buktinya, para korban narkoba, pelaku kejahatan seperti pencuri, perampok, penjudi dan lain-lain diserahkan kepada Syeh Mahmud untuk direhabilitasi dan disembuhkan menjadi manusia normal. “Kalau kami penjara bisa tidak muat dan berapa besar biaya yang harus kami keluarkan untuk menghidupi mereka di penjara,” tutur Pek.

tanda-tanda hari kiamat

Rasululloh SAW bersabda dalam sebuah hadits, bahwa tanda-tanda hari kiamat itu ada tiga, : 1. diangkatnya ilmu pengetahuan
2. merajelelanya kebodohan dan
3. semaraknya perzinaan

maka waspadalah. waspadalah dan waspadalah.!!!!!